BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Posisi
Metode Dalam Pembelajaran PAI
Metodologi merupakan hal
yang sangat penting dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Metode adalah suatu cara mengajar, yang berfungsi sebagai alat untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Semakin baik metode yang digunakan, maka akan
semakin efektif dan efisien pula pencapaian tujuannya. Dalam metode mangajar,
faktor guru, siswa, bahan yang akan diajarkan, situasi, sarana, prasarana,
serta fasilitas-fasilitas lainnya sangat besar pengaruhnya. Dengan banyaknya
faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam penggunaan suatu metode, maka
sebenarnya cukup sulit bagi seorang guru untuk menetapkan metode yang paling
baik dan harus dipakai di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam agar
pembelajaran tersebut berhasil.
Metodologi, menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2002: 741),berarti“ilmu tetang metode;
uraian tentang metode”. Sedangakan metode, menurut kamus yang sama ( 2002: 740)
, berarti : ”Cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan
agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk
memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”. Sedangkan metode mengajar, Zuhairini dkk.( 1981 : 68 )
memberikan definisi sebagai berikut: ”Metode mengajar adalah :
1. merupakan salah satu komponen dari pada proses pendidikan.
2. merupakan alat mencapai tujuan, yang didukung oleh alat-alat bantu mengajar.
3. merupakan kebulatan dalam suatu sistem pendidikan”.
1. merupakan salah satu komponen dari pada proses pendidikan.
2. merupakan alat mencapai tujuan, yang didukung oleh alat-alat bantu mengajar.
3. merupakan kebulatan dalam suatu sistem pendidikan”.
Bertitik tolak dari
pengertian metode mengajar tersebut, Zuhairini dkk. (1981 : 69) merumuskan
pengertian Metodologi Pendidikan Agama Islam seperti berikut ini : “... segala
usaha yang sistematis dan pragmatis untuk mencapai tujuan pendidikan agama,
dengan melalui berbagai aktivitas, baik di dalam maupun di luar kelas dalam
lingkungan sekolah”. Seorang guru
dituntut untuk mampu memadukan berbagai metode yang relevan. Untuk pembelajaran
shalat, misalnya, seorang guru harus mampu menggunakan metode ceramah, tanya
jawab, latihan, serta harus memberi keteladanan bagi anak didiknya. Menurut
ajaran Islam, melaksanakan pendidikan agama adalah merupakan perintah dari
Allah dan ibadah kepada-Nya.Karena itu harus dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh guru. Seorang guru
harus senantiasa membekali dirinya dengan berbagai kemampuan .Kemampuan
intelektual dan metodologis, serta kepribadian dan akhlak mulia harus dimiliki
seorang guru. Karena keteladanan mutlak harus dimiliki guru agar ia dapat
berperan sebagaimana mestinya sebagai guru Pendidikan Agama Islam.
Salah satu metode
pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah pembiasaan dan pengamalan; sebuah
metode yang diisyaratkan secara implisit di dalam Surah Al Alaq. Pada waktu
turun wahyu tersebut perintah iqra diulang-ulang oleh Malaikat Jibril.Latihan
dan pengulangan yang merupakan metode praktis untuk memahami suatu materi
pelajaran termasuk dalam metode ini. Dalam pegamalan ajaran agama, pembiasaan
ini sangat penting, karena bila sudah terbiasa melakukannya dengan baik sejak
kecil akan sulit untuk berubah dari kebiasaan tersebut.
B.
Peran Metode Dalam Pembelajaran PAI
Metode belajar-mengajar
adalah bagian utuh (terpadu, integral) dari proses pendidikan pengajaran.
Metode ialah cara gurumenjelaskan suatu pokok bahsan (thema, pokok masalah)
sebagai bagian kurikulum (isi,
materi pengajaran), dalam upaya mencapai sasaran dan tujuan pengajaran
(tujuan institusional, tujuan pembelajaran umum dan khusus).
Proses pembelajaran, atau PBM sebagai kerjasama guru-siswa,
secara psiko-pedagogis mengutamakan oto-aktivitas (kemandirian, KBS)
sebagai bekal pendewasaan diri mengembangkan kemampuan dan penguasaan bidang
pengetahuan (bidang studi, mata pelajaran). Artinya, dalam PBM peran guru
lebih bersifat tut-wuri handayani, berjalan bersama (bekerjasama, komunikasi,
dialog dan hubungan akrab) guru-siswa, ialah suasana pembelajaran di dalam dan
di luar kelas.
PBM dan kerjasama guru-siswa mencapai sasaran dan tujuan
belajar, ialah melalui cara atu metode, yang pada hakekatnya ialah jalan
mencapai sasaran dan tujuan pendidikan-pengajaran. Jadi, alasan atau nalar
guru memilih/menetapkan suatu metode dalam PBM (proses intruksional) ialah:
1) metode ini seeuai dengan pokok bahasan, dalam makna
lebih menjadi
mencapai sasaran dan
tujuan instruksional.
2) metode
ini menjadi kegiatan siswa dalam belajar (KBS, kemandirian) dan meningkatkan
motivasi atau semangat belajar.
3) metode
ini memperjelas dasar, kerangka, isi dan tujuan dari pokok
bahasan, sehingga pemahaman siswa makin jelas.
4) metode
ini dipilih guru dengan asas di atas berdasarkan pertimbangan praktis, rasional
dikuatkan oleh kiat dan pengalaman guru mengajar
5) metode
yang berdaya guna, belum tentu tunggal, jadi suatu metode dapat digunakan
secara kombinasi (sintesis terpadu) dan dilengkapi dengan media tertentu,bahkan
multi-media. Dasar pertimbangannya ialah sasaran dan tujuan pendidikan
pengajaran.
Salah
satu kompetensi guru dalam proses pendidikan adalah ketermapilan dalam memilih
metode. Pemilihan metode ini sangat berkaitan erat dengan usaha guru dalam
menampilkan proses belajar mengajar dengan situasi dan kondisi yang ada
sehingga pada akhirnya diharapkan adanya pencapaian tujuan pengajaran yang
telah dicitacitakan. Oleh karena itu salah satu hal mendasar yang harus
dipahami oleh para guru adalah sejauh mana para guru tersebut memahami
kedudukan metode sebagai salah satu factor yang menunjang dalam keberhasilan
system belajar mengajar, yang sama pentingnya dengan komponen pendidikan
lainnya.
Menurut
Syaiful Djamarah dkk. ( 1995 : 82 ), metode memiliki kedudukan sebagai berikut
:
a.
Motivasi ekstrinsik, sebagai alat pembangkit motivasi belajar.
b.
Motivasi sebagai strategi pengajaran dalam menyiasati perbedaan individual anak
didik.
c.
Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan, metode dapat meningkatkan daya serap
materi bai siswa dan berdaya serap langsung terhadap pencapaian tujuan
Menurut pendapat lain mengatakan bahwa kedudukan
metode dalam pembelajaran mempunyai ruang lingkup sebagai cara dalam :
- Pemberian
dorongan, dengan sebuah metode yang menarik akan memberi dorongan baik
kepada siswa sendiri sebagai objek pengajaran ataupun guru sebagai subjek
pengajaran. Karena dengan penggunaan metode dalam pembelajaran ini akan
menguntungkan kedua belah fihak.
- Pengungkap
tumbuhnya minat belajar, dengan sebuah metode yang sesuai dan menarik maka
minat belajar siswapun akan meningkat seiring dengan kondisi dan keadaan
yang ada.
- Penyampaian
bahan ajar, metode juga biasa digunakan guru dalam menyampaikan materi
pelajarannya kepada siswa, sehingga bisa tercapainya tujuan yang
diharapkan.
- Pencipta
iklim belajar yang kondusip, dengan keterampilan guru memilih metode yang
sesuai terhadap bahan ajar yang akan disampaikan akan membuat menarik
siswa dalam menerima pelajaran.
- Tenaga
untuk melahirkan kreatifitas, metode juga akan membantu melahirkan bakat –
bakat terpendam dari para guru dan murid dalam proses belajar mengajar.
- Pendorong
untuk penilaian diri dalam proses dan hasil belajar. Metode juga bisa
mengukur sejauh mana seorang anak didik memahami bahan ajar yang
disampaikan.
- Pendorong
dalam melengkapi kelemahan hasil belajar. Metode juga membantu guru dalam
menutupi kelemahannya terhadap metode yang lainnya.
Melihat pemaparan para ahli diatas seorang guru harus
mengerti dan wajib faham dimana dia akan menempatkan sebuah metode dalam proses
belajar mengajar, guru harus terampil melihat keefektifitasan metode yang
digunakan terhadap bahan ajar.
C.
Fungsi Metode Dalam Pembelajaran PAI
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, fungsi
metode pembelajaran meliputi:
1. Alat Motivasi Ekstrinsik.
Sebagai salah satu komponen pembelajaran metode
menempati peranan yang tidak kalah pentingnya dari komponen lain. Tidak ada
satu pun kegiatan pembelajaran yang tidak menggunakan metode pembelajaran. Ini
berarti, fungsi metode pembelajaran sebagai alat motivasi ekstrinsik, dengan
menempatkan guru sebagai motivatornya. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif
yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Metode
pembelajaran berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan
belajar peserta didik, Memberikan motifas pada pelajar dari metode belajar guru
yang menarik, Misalnya dengan hadiah bagi murid yang berprestasi.
2. Strategi Pembelajaran.
Daya serap peserta didik terhadap bahan yang diberikan
juga bermacam-macam. Ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat.
Faktor inteligensi mempengaruhi daya serap peserta didik terhadap bahan
pelajaran yang diberikan guru. Perbedaan daya serap peserta didik memerlukan
strategi pembelajaran yang tepat, dan metode merupakan salah satu solusinya.
Bagi sekelompok peserta didik boleh jadi mudah menyerap bahan pelajaran bila
guru menggunakan metode tanya jawab, tapi bagi sekelompok peserta didik yang
lain, Di sinilah letak fungsi metode pembelajaran, Metode pembelajaran termasuk
straategi.
3. Alat untuk Mencapai Tujuan.
Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai dalam
kegiatan pembelajaran dan menjadi pedoman yang memberi arah kemana kegiatan
pembelajaran akan dibawa. Tujuan dari kegiatan pembelajaran tidak akan pernah
tercapai selama komponen-komponen lainnya tidak diperlukan. Salah satu komponen
tersebut adalah metode. Fungsi metode pembelajaran adalah salah satu alat untuk
mencapai tujuan. Dengan memanfaatkan metode secara akurat guru akan mampu
mencapai tujuan pembelajaran. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki
keterampilan tertentu, maka metode yang digunakan harus disesuaikan dengan
tujuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar